Seri Mutiara Hadis Riyadhush Shalihin 13 (Chapter: Taqwa) – Manusia Paling Mulia

Redaksi Hadis:     

عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي اللَّهُ عنه أن النبي سئل: مَن أَكْرَمُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَتْقَاهُمْ فقَالُوا: لَيْسَ عَنْ هَذا نَسْأَلُكَ، قَالَ: فيُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ ابنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابنِ نَبيِّ اللَّهِ ابنِ خَلِيلِ اللَّهِ. قَالُوا: لَيْسَ عن هَذَا نَسْأَلُكَ، قَالَ: فعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَب تسْأَلُونِي؟ خِيَارُهُمْ في الْجاهِليَّةِ خِيَارُهُمْ في الإِسلامِ إذَا فَقُهُوا. متفقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Hurairah (radhiyallahu ‘anhu), bahwa Nabi ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa di antara mereka.” Mereka berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Beliau bersabda, “Yusuf, Nabi Allah, putra Nabi Allah (Ya’qub), putra Nabi Allah (Ishaq), putra Khalilullah (Ibrahim).” Mereka berkata, “Bukan itu pula yang kami tanyakan.” Beliau bersabda, “Apakah kalian bertanya tentang keturunan bangsa Arab? Orang-orang terbaik mereka pada masa jahiliyah adalah orang-orang terbaik mereka di masa Islam jika mereka memahami agama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Penjelasan:

Pembacaan kata “faquhu” dengan dhammah pada huruf Qaf adalah adalah pendapat yang masyhur. Namun ada juga pendapat yang menyebutkan dengan kasrah: faqihu. Secara makna, maksudnya adalah mereka yang memahami hukum-hukum syariat.

Berdasarkan hadis ini dapat disimpulkan bahwa kemuliaan ilmu lebih diunggulkan dibandingkan kemuliaan berdasarkan keturunan dan nasab (sebagaimana halnya QS al-Mujadilah: 11). Ini berlaku secara umum untuk semua peradaban dan kelompok masyarakat. Sebab peradaban manusia dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, dan bukan keturunan.

Dalam hadis di atas, pada pertanyaan tentang manusia yang paling mulia, Nabi pertama kali menjawab: “Yang paling bertakwa.” Jawaban ini sepenuhnya sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS al-Hujurat: 13).

Dalam jawaban tersebut terdapat motivasi untuk bertakwa kepada Allah. Semakin seseorang bertakwa kepada Allah, maka ia semakin mulia di sisi-Nya.

Namun, para Sahabat tidak menanyakan tentang siapa yang paling mulia di sisi Allah. Mereka berkata: “Bukan itu yang kami tanyakan.” Kemudian Nabi menyebutkan tentang Yusuf, yang beliau adalah Nabi, putra dari Nabi Ishaq, cucu dari Nabi Ibrahim, Sang Khalilurrahman (Kekasih Allah). Maka, ia adalah salah satu manusia yang paling mulia.

Namun para Sahabat berkata: “Bukan itu pula yang kami tanyakan.” Maka Nabi bersabda: “Apakah kalian bertanya tentang keturunan bangsa Arab? Orang-orang terbaik di masa jahiliyah adalah orang-orang terbaik di masa Islam jika mereka memahami agama.” Jadi, manusia yang paling mulia dalam hal nasab, keturunan, dan asal-usul adalah mereka yang terbaik di masa jahiliyah, tetapi dengan syarat mereka memahami agama.

Bani Hasyim, misalnya, dikenal sebagai kabilah terbaik dari Quraisy dalam Islam, tetapi dengan syarat bahwa mereka memahami agama Allah dan belajar agama-Nya. Jika mereka tidak memahami agama, maka meskipun mereka memiliki nasab yang baik sebagai keturunan Arab, mereka bukanlah yang paling mulia di sisi Allah dan bukan pula yang terbaik di antara manusia.

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa seseorang dihormati karena nasabnya, tetapi dengan syarat bahwa ia memiliki pemahaman dalam agamanya. Tidak diragukan lagi bahwa nasab memiliki pengaruh, karena itulah Bani Hasyim adalah manusia yang paling baik dan paling mulia nasabnya. Dari sana muncul Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang merupakan makhluk paling mulia. Allah berfirman:

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” (QS al-An’am: 124).

Sekiranya Bani Hasyim bukan keturunan yang paling mulia, maka Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan muncul dari keturunan tersebut. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah sosok yang diutus dari keturunan yang paling mulia dan nasab yang paling tinggi.

Inti sebenarnya dari hadis di atas adalah sabda Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa kepada Allah.” Jadi siapa yang ingin mulia di sisi Allah, maka hendaklah ia bertakwa kepada-Nya. Semakin tinggi takwanya kepada Allah, maka ia semakin mulia di sisi-Nya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa.