Yayasan Sakura Indonesia: Dari Pemulihan hingga Kepemimpinan Perempuan

Berangkat dari Kepedulian yang Panjang terhadap Perempuan dan Anak

Perjalanan Yayasan Sakura Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman panjang pendirinya, Suarni Daeng Caya, yang sejak akhir 1990-an telah bergelut langsung dengan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Berawal dari aktivitas pendampingan anak-anak dan perempuan rentan di Bandung, kepedulian tersebut perlahan berkembang menjadi sebuah visi besar: menciptakan ruang aman dan proses pemulihan yang menyeluruh bagi perempuan dan anak, sekaligus membuka jalan agar mereka bisa kembali berdaya secara sosial dan ekonomi.

Pengalaman menangani anak-anak jalanan, korban eksploitasi seksual, serta perempuan yang hidup dalam lingkaran kekerasan memperlihatkan satu pola yang sama. Perempuan dan anak berada dalam kerentanan berlapis. Ketergantungan ekonomi, minimnya akses pendidikan, dan absennya sistem pendukung membuat mereka sulit keluar dari situasi berisiko. Dari titik inilah gagasan tentang pemberdayaan perempuan Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai bantuan sesaat, tetapi sebagai proses jangka panjang yang berkelanjutan.

Lahirnya Yayasan Sakura Indonesia di Bogor

Yayasan Sakura Indonesia mulai dirintis pada tahun 2009 di Bogor. Pada masa itu, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga terjadi di lingkungan sekitar, dan bantuan yang tersedia masih sangat terbatas. Awalnya, pendampingan dilakukan secara personal, dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Mereka yang datang adalah para penyintas, banyak di antaranya berstatus single parent, dengan beban psikologis, sosial, dan ekonomi yang berat.

Dari pertemuan-pertemuan sederhana tersebut, terbentuklah komunitas perempuan yang saling menguatkan. Yayasan Sakura Indonesia kemudian berkembang menjadi ruang aman, tempat perempuan bisa memulihkan diri, membangun kembali rasa percaya diri, dan merancang masa depan yang lebih mandiri. Seiring waktu, yayasan ini tidak hanya menangani kasus di tingkat lokal, tetapi juga menjadi rujukan pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pemulihan Menyeluruh sebagai Fondasi Pemberdayaan

Pendekatan Yayasan Sakura Indonesia menempatkan pemulihan sebagai fondasi utama. Proses ini dimulai dari pemulihan psikologis, membantu penyintas keluar dari trauma, ketakutan, dan depresi. Ketika kondisi emosional mulai stabil, tahapan berikutnya adalah pemulihan sosial, di mana perempuan kembali belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun relasi yang sehat dengan lingkungan sekitar.

Setelah dua tahap ini dilalui, barulah pemberdayaan ekonomi dijalankan. Bagi Yayasan Sakura Indonesia, pemberdayaan ekonomi bukan sekadar tambahan, melainkan kunci untuk memutus rantai kekerasan. Tanpa kemandirian ekonomi, perempuan berisiko kembali terjebak dalam relasi yang tidak aman. Oleh karena itu, setiap program ekonomi selalu disesuaikan dengan kesiapan dan minat masing-masing penyintas.

Pendidikan, Daycare, dan Akses Kerja bagi Perempuan

Salah satu tantangan besar bagi perempuan penyintas, khususnya single parent, adalah pengasuhan anak. Banyak dari mereka sebenarnya memiliki potensi untuk bekerja atau berwirausaha, namun terbatas karena tidak memiliki akses pengasuhan yang aman. Menjawab kebutuhan ini, Yayasan Sakura Indonesia membangun layanan pendidikan anak usia dini dan daycare.

Keberadaan daycare memungkinkan perempuan untuk bekerja tanpa harus mengorbankan keselamatan dan tumbuh kembang anak. Menariknya, sebagian pengelola daycare dan tenaga pendidik berasal dari para penyintas itu sendiri. Melalui pelatihan singkat dan pendampingan intensif, perempuan yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan formal kini mampu berperan sebagai pengasuh dan pendidik, sekaligus memperoleh penghasilan yang berkelanjutan.

Yayasan Sakura Indonesia: Dari Pemulihan hingga Kepemimpinan Perempuan

Membangun Survivor Leaders dari Penyintas

Salah satu ciri khas Yayasan Sakura Indonesia adalah fokus pada pembentukan survivor leaders. Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa penyintas tidak hanya bisa pulih, tetapi juga mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan orang lain. Setelah melewati fase pemulihan, setiap perempuan diajak mengenali minat dan bakatnya.

Proses ini diikuti dengan pelatihan yang relevan, mulai dari kewirausahaan, pengelolaan keuangan sederhana, keterampilan berbicara di depan publik, hingga kepemimpinan komunitas. Hasilnya, banyak penyintas yang kini berperan sebagai fasilitator, pendamping, penggerak komunitas, bahkan mendirikan lembaga dan inisiatif sosial di wilayahnya masing-masing. Dari sini, pemberdayaan perempuan Indonesia menjadi gerakan yang terus berlipat, karena mereka yang pernah ditolong kini turut menolong perempuan lainnya.

Program Ekonomi dan Perempuan Wirausaha

Dalam mendukung kemandirian ekonomi, Yayasan Sakura Indonesia mengembangkan berbagai program usaha. Salah satunya adalah komunitas Perempuan Wirausaha yang telah melibatkan ratusan anggota. Program ini memberikan akses modal usaha, pelatihan profesional, serta pendampingan berkelanjutan.

Pendampingan tidak berhenti ketika usaha berjalan. Yayasan Sakura Indonesia terus melakukan coaching, membantu perempuan menghadapi tantangan, kegagalan, hingga proses bangkit kembali. Prinsip yang dijaga adalah memastikan setiap perempuan memiliki tempat untuk kembali, kapan pun mereka mengalami kesulitan.

Menjawab Akar Masalah Kekerasan terhadap Perempuan

Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Ekonomi menjadi salah satu akar masalah utama, diikuti oleh lingkungan keluarga yang tidak harmonis, minimnya literasi teknologi, serta stigma sosial terhadap perempuan, khususnya single parent. Ketimpangan gender dan budaya patriarki juga memperparah situasi, membuat perempuan sering kali berada pada posisi yang tidak setara.

Yayasan Sakura Indonesia berupaya menjawab tantangan ini dengan pendekatan lintas sektor. Mulai dari pendampingan hukum, pemulihan psikososial, hingga penguatan ekonomi, semua dirancang agar perempuan memiliki pilihan dan kendali atas hidupnya sendiri.

Harapan untuk Pemberdayaan Perempuan Indonesia ke Depan

Ke depan, Yayasan Sakura Indonesia memiliki visi agar semakin banyak ruang aman serupa hadir di berbagai daerah. Dengan mendekatkan layanan kepada perempuan, diharapkan lebih banyak penyintas yang bisa mendapatkan perlindungan, pemulihan, dan kesempatan untuk berdaya.

Pemberdayaan perempuan Indonesia bukanlah proses instan. Ia membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi banyak pihak. Melalui pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan, Yayasan Sakura Indonesia terus membuktikan bahwa perempuan yang pulih dan berdaya memiliki kekuatan besar untuk mengubah hidupnya sendiri, sekaligus memberi dampak nyata bagi komunitas di sekitarnya.

Bagikan :

Artikel Terkait

Untuk Ziah: Perjuangan Bu Tini Sembuhkan Anaknya

Kehilangan orang-orang tersayang dengan begitu cepat tak pernah terbayangkan di hidup Tini Martini (37 tahun) sebelumnya. Dia telah kehilangan anak pertamanya karena sakit 10 tahun lalu. 6 tahun kemudian, suaminya meninggal karena penyakit yang jantung yang diderita. Kini hanya ada Siti Fadhillah (7 tahun) yang akrab disapa Ziah bersamanya. Ia tak mau kehilangan satu-satunya orang

Selengkapnya »
Toko Service HP Pak Agus

Toko Service HP untuk Pak Agus, Pejuang Penyintas Tumor Kaki

Toko Service HP Pak Agus – Namanya Agus Sofian (33th), ia adalah pria asal pedalaman Sumatera Barat yang memutuskan merantau ke Pulau Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia merantau membawa keluarganya, yakni seorang istri, anak, dan keponakan. Meskipun kehidupan kota begitu  keras , dengan segala keterbatassanya Pak Agus tak letih untuk berjuang tanpa

Selengkapnya »
Rumah Tahfidz Permata

Rumah Tahfidz Permata : Hari Santri, Bangun Ekonomi Negeri

Sejak tahun 2015, Hari Santri diperingati tiap tanggal 22 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22. Dalam peringatan Hari Santri tahun ini, Evermos turut  mengenang perjuangan dan teladan jihad para santri Rumah Tahfidz Permata dengan menyelenggarakan acara Kajian dan Doa bertemakan, “Peran Santri Dalam Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Materi Kajian dibawakan langsung oleh Dr. KH. Abdul Ghofur

Selengkapnya »