Studi Evermos: UKM adalah Pendorong Penting Masa Depan Ekonomi Indonesia

Studi Evermos: UKM adalah Pendorong Penting Masa Depan Ekonomi Indonesia

Peran UKM menjadi semakin signifikan di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang bergejolak dalam beberapa waktu terakhir. UKM adalah pendorong penting masa depan ekonomi Indonesia. Indonesia memiliki 62,9 juta perusahaan terdaftar dimana hampir 99% di antaranya adalah perusahaan mikro ke kecil. UKM ini mempekerjakan total 97% dari populasi Indonesia, menyerap sebagian besar angkatan kerja, terutama pekerja yang berketerampilan rendah, dan mengurangi tingkat pengangguran terutama di Indonesia yang memiliki proporsi usia aktif yang tinggi. Sayangnya, mayoritas UKM-UKM ini masih terjebak di tahap awal pertumbuhan usaha. Lantas bagaimana UKM ini bisa mendorong masa depan ekonomi Indonesia?

Salah satu contoh kasusnya adalah Pak Bagus yang merupakan seorang pemilik UKM, selama berbulan-bulan penjualannya stagnan, tetapi biaya produksinya terus naik sehingga mengalami kerugian. Jika ini berlanjut sampai sebulan ke depan dia tahu bahwa usahanya akan tutup. Namun, Pak Bagus memiliki 20 karyawan yang harus digaji, dan dia khawatir apa yang akan terjadi pada karyawan dan keluarga mereka jika usahanya harus gulung tikar.

Pak Bagus hanyalah nama samaran, tetapi kondisinya menggambarkan kondisi yang umum dialami oleh para pelaku usaha lokal di Indonesia. Pemilik usaha berjuang untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnis mereka, bahkan salah mengambil langkah tidak hanya berdampak pada bisnis, tetapi juga orang-orang yang menggantungkan mata pencahariannya.

Mengembangkan potensi UKM untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya sangatlah penting. Usaha mikro cenderung tidak dapat memberikan jaring pengaman yang berkelanjutan kepada semua karyawannya, karena sangat mudah terpengaruh oleh perubahan ekonomi. Terlebih lagi, jumlah UKM tidak selalu sejalur dengan produktivitas; sektor UKM masih perlu dioptimalkan potensinya agar dapat mentransformasi perekonomian Indonesia dan tidak stagnan. 

Lalu bagaimana suatu usaha dapat tumbuh berkelanjutan sehingga mampu berkontribusi pada perekonomian nasional? Bagaimana suatu usaha bisa tumbuh dari usaha kecil menjadi usaha dengan sumber pendapatan besar yang dapat diandalkan, dan sebenarnya apa masalah yang dihadapi sehingga 98,75% UKM kita terjebak di tahap awal dan gagal tumbuh ke tahap berikutnya.

Demi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih baik, simak penjelasan di bawah ini. Pertanyaan tersebut berhasil dituangkan oleh Evermos, platform social commerce gotong-royong asal Bandung, Indonesia, yang melakukan pendampingan untuk UKM lokal, di dalam tulisan kami yang diterbitkan oleh World Economic Forum. Dalam tulisan ini, Evermos mencoba mengklasifikasi ulang UKM di Indonesia berdasarkan pola pikir dan keterampilan yang perlu mereka capai di setiap tahapnya yang konkrit,  antara lain:

 

Newcomer: Usaha yang baru dimulai atau bisnis yang terjebak dalam mengidentifikasi kecocokan pasar dan gagal mengembangkan bisnis lebih lanjut.

Artisan: Usaha yang telah menemukan segmen pasar khusus untuk ditargetkan dan hanya berfokus pada penyampaian produk, bukan pada skalabilitas bisnis.

Emerging: Usaha yang telah membangun sistem yang menggunakan dasar-dasar bisnis termasuk supply chain tetapi belum mencapai penetrasi pasar yang signifikan.

Challenger: Usaha yang berada di tingkat nasional atau regional, memiliki pangsa pasar yang signifikan tetapi berjuang untuk menjadi pemain dominan atau top of mind di industrinya.

Mainstream: Usaha yang telah menjadi top of mind di industrinya, tetapi sekarang harus mempertahankan atau mengembangkan pangsa pasarnya agar tetap berada di puncak.

 

Newcomer

Para pengusaha yang baru memulai bisnis dari nol adalah definisi untuk Newcomer. Kelompok Newcomer inilah yang sekarang membentuk mayoritas UKM di Indonesia dengan penjualan di bawah 1 Miliar Rupiah per tahun.

Tantangan yang banyak dihadapi oleh Newcomer adalah belum memahami target pasar yang tepat, belum mendalami jenis produk apa yang perlu ditawarkan ke target pasar serta strategi pemenuhan permintaan produk secara efektif dan efisien.

Artisan

Pada kategori ini para pemilik usaha telah menguasai apa yang diinginkan konsumen. Artisan biasanya berfokus ke pemenuhan permintaan produk, namun belum sampai memikirkan skalabilitas. Penjualan di kelas artisan ini berkisar antara 1 – 5 Miliar Rupiah per tahun. Hanya sekitar 0,5% bisnis di Indonesia berada di kelas Artisan.

Masalah seperti pengadaan produk dan arus kas menjadi penghambat dalam pertumbuhan usaha di kelas ini. Untuk mengatasi tantangan-tantangan seperti ini, diperlukan sebuah perubahan pola pikir.

Tantangan pada tahap ini adalah bagaimana menghasilkan produk dalam skala yang lebih besar dengan menciptakan sistem bisnis yang tepat dalam bentuk mempekerjakan profesional atau berinvestasi dalam alat produksi yang tepat, serta bagaimana mereka mendelegasikan produk atau bisnis kepada orang lain. Untuk mencapai tahap berikutnya, Artisan harus membangun skalabilitas usaha baik dari segi sumber daya dan proses.

Emerging

Begitu suatu usaha mencapai kategori Emerging, produk mereka sudah sesuai dengan kebutuhan pasar dan memiliki skalabilitas. Dengan penjualan tahunan antara 5 – 100 Miliar Rupiah, diperkirakan sekitar 0,35% bisnis berada pada tahap ini.

Di sini, para pemilik bisnis sudah terbukti mampu mengembangkan bisnisnya dan mulai dikenal oleh rekan-rekannya. Namun, banyak pemilik bisnis pada tahap ini yang mengalami stagnasi. Mereka terjebak dalam paradigma palsu bahwa bisnis mereka sudah mencapai puncak potensinya, pertumbuhannya lambat, lebih lambat dari pada tahap sebelumnya ketika mereka mampu mengubah diri mereka keluar dari stagnasi dengan perspektif baru. Fenomena ini dinamakan juga sebagai local optima. Kemudian muncul pertanyaan kenapa mereka tidak bisa tumbuh?

Banyak bisnis kemudian mengambil kesimpulan yang salah bahwa persaingan di pasar terlalu ketat, dan tidak ada lagi ruang untuk pertumbuhan. Beberapa pemilik bisnis kemudian mencari tantangan baru dengan melebarkan sayap daripada mendalami produk mereka. Mereka mengembangkan bisnis untuk masuk ke kategori baru atau membuat bisnis baru, terkadang bahkan di luar industri awal mereka sendiri.

Pada tahap Emerging, cara utama untuk melewati jurang ke tahap berikutnya adalah dengan memiliki fokus yaitu dengan mendalami produk dan mulai membuka jaringan penjualan baru.  Pada tahap ini yang lebih penting bagi bisnis adalah membangun kepercayaan di antara pelanggan dan pengecer.

Challenger

Sebagai Challenger atau penantang, pemilik bisnis kini telah mencapai level di mana mereka bersaing secara langsung dengan brand-brand yang mainstream. Produk mereka memiliki cakupan area yang luas di dalam negeri, tetapi mereka mungkin masih bukan pilihan pertama bagi pelanggan atau belum menjadi top of mind.  Dengan penjualan antara 100 – 500 Miliar rupiah per tahun, diperkirakan hanya sekitar 0,14% bisnis berada pada tahap ini. 

Satu-satunya fokus dalam Challenger adalah memperbesar pangsa pasar sehingga mereka dapat menjadi yang selalu terdepan di benak pelanggan. Bisnis perlu berinvestasi lebih dalam Branding dan mengembangkan produk yang lebih baik dan lebih murah.

Bisnis perlu berinovasi agar selalu dapat terhubung dengan pelanggan potensial dan membangun hubungan dengan basis pelanggan mereka yang sudah ada. Setiap peningkatan produksi juga akan disertai dengan risiko yang semakin besar. Sehingga bisnis perlu merencanakan operasinya secara bijak dan efektif untuk menghadapi persaingan.

Mainstream

Bisnis dalam kategori Mainstream adalah para top of mind dalam industri mereka, dengan penjualan di atas Rp500 Miliar per tahun, diperkirakan hanya 0,01% perusahaan yang berada di tahap ini. Bagi banyak orang Indonesia, menjadi Mainstream adalah tujuan akhir dari berwirausaha. Bahkan di kategori tertinggi ini, perusahaan masih perlu selalu berinovasi untuk mempertahankan posisinya dan ditantang untuk terus bertumbuh.

Ilham Taufiq, Co-Founder dan Chief Partnership & Strategy Evermos mengatakan, “Cetak biru pengkategorian ini merupakan hal yang baru di Indonesia. Pengkategorian untuk UKM yang sekarang ada  kurang konkrit agar UKM dapat bertumbuh”. Pihak Evermos juga aktif melakukan pendampingan untuk UKM-UKM yang tergabung di dalam platformnya dengan menggunakan hasil studi ini, “Apa yang sedang kita deskripsikan ini menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapi UKM  di setiap kelasnya berbeda-beda, sehingga bantuan dari banyak sisi seperti pendampingan maupun workshop perlu disesuaikan dengan tahapan usahanya”. Imbuh Ilham.

Sangat penting bagi para pengusaha untuk memiliki pola pikir yang dibutuhkan dalam tahapannya sehingga bisa merencanakan pertumbuhan usaha dengan baik. Selain dapat membantu usahanya berkembang, UKM juga dapat memberikan dampak positif pada perekonomian Indonesia.  Jika Indonesia memiliki banyak usaha yang mencapai tahapan Emerging atau Challenger, akan banyak nilai-nilai yang dapat diciptakan oleh sektor UKM ini, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan Indonesia dapat keluar dari jebakan negara kelas menengah (middle-income trap).

****

Tentang Evermos

Evermos adalah startup bidang social commerce yang memiliki visi untuk membangun ekonomi gotong royong demi meningkatkan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih baik. Melalui platform Evermos, kami ingin memberikan kesempatan dan dukungan kepada UMKM, individu yang ingin menjadi pengusaha. Selain itu masyarakat luas untuk memiliki kesadaran bersama dan saling membantu satu sama lain untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Evermos menyediakan ekosistem yang mendukung individu, walau tanpa modal, akses dan pengalaman, untuk menjadi pengusaha dengan menjadi reseller Evermos. Reseller menjual produk-produk terkurasi dari brand-brand lokal sehingga selain berbisnis, mereka turut serta memajukan UMKM. Sementara masyarakat luas dapat pengalaman belanja unggulan dari brand lokal dengan cara lebih nyaman dan harga terbaik, dibantu oleh reseller. Untuk mempelajari lebih lanjut, kunjungi www.evermos.com

Publikasi Hasil Riset Pasar oleh Evermos x SOKA Institute

Publikasi Hasil Riset Pasar oleh Evermos x SOKA Institute

Membaca tren dan menangkap peluang merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan seorang pelaku usaha. Seperti yang kita ketahui, era digital seperti saat ini merupakan kesempatan yang besar untuk dapat mengembangkan potensi suatu usaha, termasuk UMKM. Namun pada kenyataanya, masih banyak UMKM lokal yang sulit untuk berkembang dan justru masih terjebak dalam pemilihan produk. Bersama Ilham Taufiq selaku Co-Founder Evermos dan Drs. Iwan Gunawan, M.M. selaku Direktur Soka Institute akan dikupas secara tuntas mengenai kiat membaca tren dan menangkap peluang usaha bersama Hasil Riset Pasar Evermos.

Baca berita terbaru, informatif dan inspiratif lainnya di Evermos Impact.

Davos Agenda 2021 Serukan Ekonomi yang Lebih Adil

Davos Agenda 2021 Serukan Ekonomi yang Lebih Adil

Laju ekonomi UKM Indonesia mendapatkan sorotan khusus pada Davos Agenda 2021 World Economic Forum Annual Meeting yang telah diselenggarakan pada 25-29 Januari 2021 lalu.  Davos menyerukan ekonomi yang lebih adil pada acara forum tersebut. 

Forum penting tahunan ini menghadirkan para tokoh dunia seperti Presiden Tiongkok Xi Jinping, PM India Narendra Modi, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan CEO Softbank Masayoshi Son. Dari Indonesia sendiri diwakili oleh Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi dan Menlu RI Retno Marsudi. Untuk tahun ini ada berapa agenda penting yang dibahas termasuk krisis ekonomi dan sosial yang terjadi karena pandemi virus COVID-19, ekonomi yang lebih adil, melampaui batas geopolitik, teknologi untuk kebaikan dan bagaimana cara menyelamatkan bumi.

Pembahasan tentang banyaknya produk-produk impor masuk ke Indonesia yang menyebabkan para UKM dan produk lokal kalah bersaing dan solusi untuk meningkatkan daya saing produk UKM Indonesia menjadi topik utama dari artikel yang menjadi bagian dari Davos Agenda 2021 yang ditulis oleh Evermos, sebuah perusahaan dari Bandung yang juga merupakan anggota dari Global Innovator World Economic Forum. 

Kisah Produsen Jilbab di Bandung 

Pak Iyus, seorang produsen jilbab di Bandung, Indonesia dalam puncak bisnisnya pada 2015 sampai 2017 dapat memproduksi 150,000 jilbab per hari. Skala produksinya menurun hingga 80% mengakibatkan adanya penyusutan pemasukan para karyawannya. Hal ini terjadi karena adanya produk impor yang membanjiri pasaran, beberapa diantaranya bahkan ilegal. Berdasarkan keterangan dari di Tanah Abang Jakarta yang merupakan pasar grosir terbesar di Asia Tenggara, kontribusi produk lokal di daerah Tanah Abang juga telah menyusut dari yang aslinya 80% pada awal tahun 2000-an, menjadi 50% sekarang.

Praktek dagang yang seperti ini telah memberikan dampak yang timpang pada masyarakat seperti Pak Iyus. Kenaikan fluktuatif pada penjualan dikaitkan dengan jumlah banyaknya produk impor yang beredar di pasaran. Dia juga mengamati bahwa para produsen asing belajar tentang produk apa yang sedang diminati di Indonesia, dan hanya dalam 6 bulan saja, produk tersebut bisa membanjiri pasar lokal. Dengan tampilan serupa namun dengan harga yang jauh lebih murah.

Untuk dapat bersaing, pak Iyus harus membuat produk baru yang lebih unggul untuk meningkatkan penjualannya. Lekas produksi, dia hanya punya waktu 6 bulan untuk meraup keuntungan. Pak Iyus hanya bisa menerima kenyataan bahwa lawan saing asingnya menggunakan intelijen pemasaran sehingga memberikan unfair advantage yang memperpendek siklus penjualan produknya. Karena waktu yang terbatas untuk memulai maupun berinovasi inilah, ditambah juga tanpa adanya rencana yang strategis. Dia  pun jadi enggan untuk mengembangkan bisnisnya.

Keadaan yang seperti ini telah membuat adanya suatu vicious cycle pada UKM-UKM Indonesia. Produk impor yang lebih murah di pasaran membuat UKM menjadi enggan untuk berinvestasi secara jangka menengah dan jangka panjang. Dampaknya adalah turunnya produktivitas dan produksi yang tidak efisien (pertumbuhan menjadi terbatas) dan membuat UKM kalah saing dengan pemain global. Vicious cycle pada tingkat UKM akan menciptakan vicious cycle kecil lain yang berdampak pada karyawan UKMnya. Turunnya produktivitas akan mengurangi pendapatan mereka, yang kemudian berdampak kepada pendidikan anak-anak mereka. Berlanjut ke terciptanya pekerja-pekerja dengan keterampilan kurang mumpuni, yang seharusnya dipekerjakan oleh UKM agar bisa berjalan. 

Keadaan sekarang telah membuat UKM enggan berinvestasi jangka panjang / gambar Evermos

Dampak Produksi Lokal yang Besar

Impor juga memiliki dampak nyata terhadap potensi pendapatan dalam masyarakat. Satu kontainer jilbab impor biasanya memuat 250,000 – 450,000 jilbab. Untuk memproduksi 150,000 jilbab per bulan, Pak Iyus mempekerjakan 3,600 rumah tangga di kotanya. Total pendapatan untuk tiap rumah tangga biasanya sekitar Rp 3 juta, atau sama dengan tiga kali UMR. Penurunan produksi karena adanya barang impor membuat total kerugian atas potensi pendapatan hingga Rp 10 miliar per bulan. Di sisi lain, satu kontainer juga dikenakan pajak oleh pemerintah sekitar Rp 600 juta sampai 1,3 milyar.

Dampak yang memanjang dalam masyarakat inilah menjadi alasan kenapa pentingnya kita harus mulai membeli produk lokal, perputaran uang akan bisa jadi lebih cepat dan dapat digunakan dengan lebih efisien untuk menghidupkan perekonomian lokal.  Arip Tirta, Presiden Evermos mengatakan, ”Jika kita tidak belanja produk lokal, SME akan jauh lebih kalah dalam persaingan dengan rantai nilai global. Setiap produk lokal yang kita beli dapat membantu menghidupkan ekonomi lokal, karena akan makin banyak orang menerima bagian dari yang kita belanjakan. Di sini kita tidak hanya mengalirkan uang ke pemilik produk saja, tapi ke vendor-vendor, karyawan-karyawan dan pihak-pihak relasi lainnya (Ring 2). Uang itu ibarat darah, agar perekonomian terus berjalan, kitalah yang perlu membuatnya terus mengalir. Tentu saja kita perlu meningkatkan kualitas dan pengalaman juga, tapi di samping semua itu, agar produsen lokal dapat mengejar ketinggalan, kita juga perlu memberi mereka kesempatan untuk berjuang.”

Ada banyak yang dipertaruhkan di sini ketika konsumen tidak membeli produk lokal. 97% lapangan pekerjaan di Indonesia diciptakan oleh sektor UKM, di sini UKM juga menyerap mayoritas pekerja dengan keterampilan rendah. UKM juga menyumbang sampai 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal tersebut untuk menunjang kualitas hidup secara massal dan mengentaskan jutaan orang keluar dari kemiskinan. Peluang untuk memperluas dampak dari produksi lokal masih sangat besar. Indonesia memiliki pasar yang besar dan terus berkembang, masih butuh lebih banyak produk secara jumlah dan variasi. Namun sampai sekarang kita belum bisa mewujudkan hal ini menjadi kenyataan.

Tentang Vicious Cycle

Evermos

Pertanyaan utamanya adalah bagaimana Indonesia dapat memutus vicious cycle yang sudah menjerat banyak masyarakat. Cara kerja siklus ini mirip rantai yang terus tersambung. Untuk dapat memutuskannya kita harus fokus pada satu dari bagian rantai, dengan melakukan salah satu atau semua poin berikut:

  1. Go local or go home. Menginspirasi masyarakat untuk membeli produk lokal meskipun ada produk alternatif lain yang lebih murah.
  2. Memikirkan jangka panjang. Mendorong UKM untuk mulai memikirkan dan berinvestasi secara jangka menengah hingga panjang, meskipun dihujani oleh produk global.
  3. Produktivitas sebagai roda pertumbuhan. Fokus pada pelatihan keterampilan dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
  4. Cara terbaik untuk menyerang adalah bertahan. Menciptakan kebijakan-kebijakan dagang yang efektif yang dapat melindungi UKM, dengan pendekatan intelijen pasar yang lebih data-driven.

Jika dapat memutus rantai ini, Indonesia dapat menciptakan virtuous cycle dimana produk lokal akan makin diminati, sehingga UKM mau memikirkan pertumbuhan secara jangka menengah dan panjang. Produktivitas, efisiensi dan keuntungan yang lebih tinggi akan bisa diciptakan dan membuat produk lokal dapat bersaing dengan produk global. Cara lainnya adalah dengan membuat gebrakan besar, memutus siklus ketergantungan kita dengan UKM dan fokus pada peningkatan tenaga kerja terampil, mengubahnya dari pekerja berketerampilan rendah menjadi pekerja berketerampilan tinggi.

Vicious cycle sulit untuk dihentikan, namun bukan berarti tidak mungkin jika semua yang berperan sama-sama bersatu memegang erat dan mulai memutar rodanya, sebagai satu negeri.

Sekian artikel yang dapat kami sajikan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, untuk membaca artikel menarik lainnya silahkan untuk mengunjungi situs website Evermos Impact.

Global Value Chain: Solusi Meningkatkan Daya Saing UKM       

Global Value Chain: Solusi Meningkatkan Daya Saing UKM   

Solusi meningkatkan daya saing UKM – Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian Indonesia. Hampir seluruh jenis usaha yang ada di Indonesia adalah UKM (99%). Tidak heran UKM menjadi lapangan pekerjaan utama bagi 80% masyarakat Indonesia. Akan tetapi, banyaknya jumlah UKM di Indonesia tidak memberikan dampak yang signifikan pada kenaikan nilai ekspor. UKM tercatat hanya menyumbang sekitar sepertiga saja dari total nilai ekspor. Ketimpangan ini terjadi karena mayoritas UKM memiliki produktivitas bisnis yang relatif rendah akibat kurangnya pengalaman berbisnis sehingga sulit meningkatkan skala usaha. Hal ini menyebabkan adanya kesulitan bagi para pelaku UKM untuk mendapatkan investasi, akses untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan, serta teknologi.

 Tingkatan Perkembangan Ekonomi dalam Global Value Chain

Salah satu cara yang dipertimbangkan dapat menjadi solusi alternatif untuk UKM tetap dapat meningkatkan perkembangan ekonomi adalah dengan berpartisipasi dalam Global Value Chain (GVC) atau Rantai Nilai Global. Berdasarkan paparan World Bank, GVC merupakan proses produksi barang jadi yang melibatkan beberapa negara. Setiap negara memiliki perannya masing-masing dalam proses produksi, misalnya negara A menjadi penyedia bahan baku, negara B menjadi pihak yang mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi, dan negara C yang memproduksi barang jadi. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa UKM yang mengimpor bahan setengah jadi dan menggunakan teknologi asing dapat meningkatkan produktivitas bisnis. Sayangnya, UKM di Indonesia belum mendapatkan akses untuk dapat berpartisipasi dalam GVC. Sejauh ini hanya perusahaan besar atau multinasional saja yang dapat terlibat dalam GVC.

Menariknya, seringkali partisipasi UKM dalam Global Value Chain hanya dikaitkan dengan bagaimana UKM dapat meningkatkan nilai ekspor. Padahal dengan berpartisipasi dalam Global Value Chain, UKM memiliki dua kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Kesempatan pertama adalah dengan mendapatkan profit dari bahan impor setengah jadi untuk diproduksi menjadi bahan jadi, dan kesempatan kedua adalah dengan menjual produk jadi sebagai barang ekspor. Faktanya, berbagai data membuktikan bahwa UKM sebenarnya tidak perlu melakukan ekspor untuk mendapatkan keuntungan dari Global Value Chain. Para pelaku UKM dapat memanfaatkan bahan baku impor setengah jadi yang didapat dari partisipasinya dalam Global Value Chain untuk meningkatkan produktivitas bisnis sehingga produknya dapat memiliki daya saing yang kompetitif di pasar domestik.

Umumnya, para pelaku UKM di Indonesia tidak banyak membeli bahan baku impor setengah jadi dari luar negeri. Hanya 15% dari nilai tambah yang digunakan oleh UKM untuk menghasilkan barang ekspor yang produksinya berasal dari luar negeri. Sementara perusahaan besar menggunakan bahan baku impor setengah jadi hingga 20%. Hal ini menunjukkan bahwa UKM bisa mendapatkan kesulitan untuk mengambil keuntungan dari input GVC. Namun pertanyaannya adalah mengapa UKM belum beralih menggunakan bahan baku impor setengah jadi untuk menciptakan nilai tambah?

Pelaku UMK: Perlu Perdalam Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Pasar

Para pelaku UKM yang masih berada dalam tingkat artisan biasanya kurang memiliki kemampuan untuk membuat rencana bisnis jangka panjang. Padahal jika mereka memutuskan untuk membeli produk impor setengah jadi, rencana jangka panjang untuk produksi sangatlah dibutuhkan. Akan tetapi, yang sering terjadi adalah mereka hanya memproduksi untuk jangka pendek. Oleh sebab itu, para pelaku UKM perlu memperdalam pengetahuan dan pemahamannya tentang permintaan pasar dan prediksi bisnis di masa depan agar dapat lebih yakin dalam berinvestasi jangka panjang.

Akan tetapi, banyak UKM yang sudah lebih mapan memiliki pandangan berbeda-beda. Sebagian usaha lebih memiliki untuk fokus pada pemenuhan permintaan pasar tanpa perlu menciptakan nilai tambah produk. Mereka biasanya menggunakan produk impor siap pakai dan fokus pada pemasaran produk, tidak pada penciptaan nilai tambah produk. Sementara itu, terdapat pula sejumlah usaha yang percaya bahwa nilai tambah produk berasal dari bahan setengah jadi yang diproduksi secara lokal, tidak peduli apabila seberapa tidak efisien dan mahalnya produk tersebut dihasilkan. Alhasil, produk yang dihasilkan dibandrol dengan harga mahal yang sering tidak dapat bersaing di pasar.

Lalu, solusi apa yang sebenarnya paling tepat? Mungkin jawabannya berada di tengah-tengah kedua pandangan tersebut.

Linda Anggrea adalah CEO dari Buttonscarves, sebuah merek fashion yang telah sukses dan menunjukkan perkembangan yang stabil sejak didirikan pada tahun 2016. Yang membuat bisnis ini berbeda dengan perusahaan lain adalah kemampuannya untuk memisahkan komponen-komponen produksi dan fokus pada bagian yang ingin diberikan nilai tambah. Tidak jarang mereka menggunakan bahan baku impor setengah jadi untuk mendukung produksi. Terutama jika produk impor tersebut memiliki kualitas yang lebih baik dan tidak diproduksi secara lokal.

Button Scarves Jadi Perusahaan yang Memanfaatkan Global Value Chain

Buttonscarves dapat menjadi contoh perusahaan yang memanfaatkan global value chain dan yang berpartisipasi di dalamnya untuk memberikan nilai tambah pada produknya. Langkah ini seharusnya dapat ditiru oleh para pelaku UKM lainnya yang ingin lebih berkembang. Faktanya, tujuan UKM menghasilkan produk seharusnya adalah untuk memberikan nilai pada produknya. Dalam ekonomi global, ini berarti seorang pebisnis harus mengetahui bagian mana dari proses produksi yang dapat diberikan nilai paling besar dan fokus pada hal tersebut. Apabila dijalankan dengan tepat, sebuah bisnis dapat meningkatkan efisiensi dan kemampuannya untuk bersaing dalam segi harga maupun kualitas dengan produk lain.

Baca berita terbaru, informatif dan inspiratif lainnya di Evermos Impact.