Dari Pendampingan Korban hingga Perlindungan Pekerja Migran: Perjalanan Sa’adah Menguatkan Perempuan dari Desa

Ketika Kepedulian Terhadap Perempuan Membuka Jalan Perubahan

Bagi Sa’adah, memperjuangkan perlindungan perempuan bukan sekadar pekerjaan, tetapi perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap banyak realitas sosial di masyarakat, sebagai Manager Program di WCC Mawar Balqis sekaligus focal point Migrant Worker Resource Centre (MRC) Cirebon, Sa’adah telah lama berhadapan langsung dengan berbagai persoalan yang dialami perempuan, khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan maupun pekerja migran.

Pengalaman mendampingi korban membuka pemahaman bahwa banyak persoalan yang dihadapi perempuan tidak berdiri sendiri. Isu kekerasan dalam rumah tangga, ketimpangan ekonomi, hingga keputusan menjadi pekerja migran sering kali saling berkaitan dan membentuk lingkaran yang kompleks. Dari titik itulah Sa’adah semakin memahami bahwa perlindungan perempuan perlu dilakukan secara lebih sistematis, tidak hanya pada tahap penanganan kasus, tetapi juga pada tahap pencegahan.

Melihat Realitas Pekerja Migran Perempuan dari Dekat

Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu daerah pengirim pekerja migran yang cukup besar di Indonesia. Banyak perempuan memutuskan bekerja ke luar negeri dengan harapan dapat meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Namun dalam praktiknya, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Sa’adah menemukan bahwa banyak calon pekerja migran berangkat dengan informasi yang sangat terbatas mengenai hak-hak mereka. Sebagian besar hanya memahami bahwa mereka akan menerima gaji, tanpa mengetahui perlindungan hukum, mekanisme pengaduan, maupun layanan yang dapat diakses ketika menghadapi persoalan di negara tujuan.

Kondisi ini membuat banyak perempuan migran tidak menyadari ketika mereka mengalami kekerasan. Pelecehan seksual, kekerasan fisik, hingga perlakuan tidak manusiawi kerap dianggap sebagai bagian dari risiko pekerjaan. Minimnya literasi juga membuat sebagian calon pekerja migran memilih jalur keberangkatan nonprosedural yang dianggap lebih cepat dan mudah. Praktik perekrutan melalui sponsor yang mendatangi rumah-rumah di desa masih sering terjadi, sehingga banyak perempuan berangkat tanpa perlindungan yang memadai. Realitas tersebut semakin menguatkan komitmen Sa’adah untuk terlibat lebih jauh dalam upaya perlindungan pekerja migran perempuan.

Dari Pendampingan Korban hingga Perlindungan Pekerja Migran: Perjalanan Sa’adah Menguatkan Perempuan dari Desa

Bergabung Menguatkan Perlindungan Melalui MRC Cirebon

Keterlibatan Sa’adah dengan MRC Cirebon bermula ketika Kabupaten Cirebon menjadi salah satu wilayah pilot project program perlindungan pekerja migran yang diinisiasi oleh International Labour Organization (ILO). Program ini mempertemukan berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap isu pekerja migran dan perlindungan perempuan. Melalui peran ini, Sa’adah tidak hanya fokus pada pendampingan korban, tetapi juga memperkuat sistem perlindungan di tingkat komunitas.

Bersama tim MRC, ia mendorong pendekatan yang berpusat pada kebutuhan korban. Setiap kasus ditangani melalui proses asesmen untuk memahami kebutuhan yang paling mendesak, baik dari sisi kesehatan, pemulihan psikologis, bantuan hukum, maupun pemberdayaan ekonomi. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap korban tetap memiliki kendali atas keputusan yang diambil, sementara pendamping hadir untuk memberikan informasi dan dukungan yang diperlukan.

Menguatkan Desa sebagai Garda Terdepan

Salah satu fokus utama yang didorong Sa’adah adalah memperkuat peran desa dalam perlindungan pekerja migran. Baginya, desa merupakan titik awal yang sangat penting dalam proses migrasi. Banyak keputusan menjadi pekerja migran diambil di tingkat keluarga dan komunitas, sehingga pencegahan juga perlu dimulai dari sana.

Melalui MRC Cirebon, Sa’adah bersama tim mendorong berbagai inisiatif edukasi di tingkat desa. Penguatan kapasitas dilakukan kepada paralegal desa, motivator ketahanan keluarga, serta berbagai jaringan komunitas yang memiliki kedekatan dengan masyarakat. Selain itu, pemerintah desa juga didorong untuk menyusun peraturan desa yang secara khusus mengatur perlindungan pekerja migran dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dengan adanya payung hukum di tingkat desa, dukungan terhadap korban dapat dilakukan lebih cepat dan terstruktur.

Menggerakkan Kolaborasi untuk Dampak yang Lebih Luas

Sa’adah menyadari bahwa perlindungan pekerja migran perempuan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dari strategi yang ia jalankan. Melalui jaringan organisasi masyarakat sipil di Cirebon, berbagai pihak diajak untuk bersama-sama menyuarakan isu perlindungan perempuan dan pekerja migran.

Momentum seperti 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Hari Perempuan Internasional, dan Hari Migran Internasional dimanfaatkan sebagai ruang edukasi publik. Kegiatan seperti talkshow, diskusi komunitas, hingga roadshow ke sekolah dan pesantren dilakukan untuk memperluas pemahaman masyarakat. Pendekatan ini membantu membuka ruang dialog yang lebih luas sekaligus memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya perlindungan pekerja migran perempuan.

Belajar Melihat Masalah dari Banyak Perspektif

Bagi Sa’adah, perjalanan mendampingi perempuan dan pekerja migran membawa banyak pembelajaran berharga. Melalui berbagai kasus yang ditemui, ia belajar bahwa setiap persoalan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Faktor ekonomi, pendidikan, kondisi sosial, hingga dinamika keluarga sering kali saling memengaruhi.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya melihat persoalan secara utuh tanpa terburu-buru menyalahkan pihak tertentu. Pendampingan juga membuka ruang bagi Sa’adah untuk terus belajar, baik dari pengalaman para korban, dari komunitas, maupun dari berbagai pihak yang terlibat dalam upaya perlindungan pekerja migran.

Bagi Sa’adah, setiap langkah kecil dalam memperkuat sistem perlindungan perempuan memiliki arti yang besar. Karena ketika perempuan mendapatkan perlindungan yang lebih baik, maka keluarga, komunitas, dan masyarakat juga ikut merasakan dampaknya.

Bagikan :

Artikel Terbaru
Artikel Terkait

Untuk Ziah: Perjuangan Bu Tini Sembuhkan Anaknya

Kehilangan orang-orang tersayang dengan begitu cepat tak pernah terbayangkan di hidup Tini Martini (37 tahun) sebelumnya. Dia telah kehilangan anak pertamanya karena sakit 10 tahun lalu. 6 tahun kemudian, suaminya meninggal karena penyakit yang jantung yang diderita. Kini hanya ada Siti Fadhillah (7 tahun) yang akrab disapa Ziah bersamanya. Ia tak mau kehilangan satu-satunya orang

Selengkapnya »
Toko Service HP Pak Agus

Toko Service HP untuk Pak Agus, Pejuang Penyintas Tumor Kaki

Toko Service HP Pak Agus – Namanya Agus Sofian (33th), ia adalah pria asal pedalaman Sumatera Barat yang memutuskan merantau ke Pulau Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia merantau membawa keluarganya, yakni seorang istri, anak, dan keponakan. Meskipun kehidupan kota begitu  keras , dengan segala keterbatassanya Pak Agus tak letih untuk berjuang tanpa

Selengkapnya »
Rumah Tahfidz Permata

Rumah Tahfidz Permata : Hari Santri, Bangun Ekonomi Negeri

Sejak tahun 2015, Hari Santri diperingati tiap tanggal 22 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22. Dalam peringatan Hari Santri tahun ini, Evermos turut  mengenang perjuangan dan teladan jihad para santri Rumah Tahfidz Permata dengan menyelenggarakan acara Kajian dan Doa bertemakan, “Peran Santri Dalam Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Materi Kajian dibawakan langsung oleh Dr. KH. Abdul Ghofur

Selengkapnya »