Pandemi tahun 2020 menjadi titik balik bagi banyak orang. Di tengah keterbatasan ruang gerak dan ketidakpastian ekonomi, lahir berbagai inisiatif yang berangkat dari kepedulian. Salah satunya adalah Sidina Community, komunitas yang didirikan oleh Susi Sukaesih bersama rekan-rekannya pada Agustus 2020. Berangkat dari kegelisahan melihat banyak perempuan, terutama ibu, yang menjalankan usaha tanpa pemahaman dasar bisnis yang memadai, Susi dan para co-founder menggagas sebuah ruang belajar bersama.
Banyak ibu belum memahami cara menghitung HPP, menentukan value proposition, hingga mengelola usaha secara berkelanjutan. Dari sinilah Sidina Community tumbuh sebagai wadah edukasi, pengembangan diri, sekaligus support system. Nama “Sidina” sendiri bermakna pemilik kebaikan, mencerminkan nilai yang ingin dibangun: ruang yang mendorong perempuan untuk memilih bertumbuh, belajar, dan saling menguatkan.
Lahir dari Ruang Sederhana, Bertumbuh Lewat Kebersamaan
Sidina Community tidak dibangun dengan strategi besar atau promosi masif. Komunitas ini bermula dari inisiatif sederhana melalui grup WhatsApp dan penyebaran informasi dari mulut ke mulut. Dari 10 anggota, berkembang menjadi ratusan, hingga kini ribuan perempuan tergabung di dalamnya. Sejak awal, Sidina Community memadukan edukasi bisnis dan pengembangan diri. Selain mentoring usaha online, komunitas ini juga aktif membahas isu pendidikan dan parenting. Bahkan di tahun yang sama, Sidina Community dipercaya menjadi mitra pemerintah dalam bidang pendidikan.
Komunitas ini terbuka bagi perempuan minimal usia 20 tahun, tanpa membatasi status pernikahan. Prinsip inklusivitas ini menjadikan Sidina Community sebagai ruang aman lintas latar belakang.
Kolaborasi sebagai Jembatan Dampak
Seiring pertumbuhan anggota yang aktif di media sosial, berbagai pihak mulai melirik Sidina Community untuk berkolaborasi.
Pola kolaborasi yang dibangun terbagi dalam tiga bentuk utama:
-
Kolaborasi antar komunitas sebagai community partner.
-
Kolaborasi dengan sekolah melalui fasilitator terlatih yang memberikan edukasi langsung.
-
Kolaborasi dengan brand dan institusi untuk penyelenggaraan event, webinar, hingga kampanye edukatif.
Sidina Community juga pernah bekerja sama dengan kementerian dan berbagai institusi dalam pelatihan dan webinar. Keterbukaan terhadap kolaborasi menjadi kunci perluasan dampak, selama tetap sejalan dengan visi komunitas.
Transformasi sebagai Kata Kunci
Bagi Susi Sukaesih, dampak terbesar Sidina Community bukan sekadar jumlah anggota, melainkan transformasi yang terjadi di dalamnya.
Transformasi ini hadir dalam berbagai bentuk:
-
Peningkatan wawasan, dari yang sebelumnya minim informasi menjadi lebih paham tentang bisnis, pendidikan, dan pengembangan diri.
-
Peningkatan keterampilan, termasuk keberanian berbicara di depan umum dan kepercayaan diri yang tumbuh.
-
Perubahan pola pikir, dari merasa hanya sebagai ibu rumah tangga menjadi individu yang mampu berkontribusi di masyarakat.
Banyak anggota yang kemudian menjadi trainer, pengisi seminar parenting, hingga menginisiasi gerakan sosial di lingkungan tempat tinggalnya seperti taman baca. Transformasi ini tidak instan, tetapi tumbuh dari proses belajar bersama. Bahkan bagi Susi sendiri, komunitas ini menjadi sumber motivasi. Melihat semangat para anggota mendorongnya untuk terus mengembangkan diri dan melanjutkan pendidikan.
Dari Komunitas ke Ekosistem Pemberdayaan
Menariknya, Sidina Community berkembang dari unit usaha yang telah lebih dulu berbadan hukum. Ketika pandemi menghentikan bisnis konveksi yang sebelumnya dijalankan, komunitas justru menjadi titik lahirnya ekosistem baru. Sidina Community kini juga berperan sebagai jembatan antara brand dan anggota komunitas, mulai dari kebutuhan KOL, afiliator, reviewer, hingga event attendee.
Selain itu, tersedia layanan trainer dan konsultasi dengan melibatkan psikolog serta konsultan profesional. Model ini menjadikan Sidina Community bukan sekadar ruang berbagi, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi. Anggota tidak hanya belajar, tetapi juga mendapatkan peluang tambahan penghasilan dan ruang aktualisasi diri.
Tantangan dalam Menggerakkan Komunitas
Sebagai komunitas berbasis voluntary dan non-profit, Sidina Community tentu menghadapi beberapa tantangan berupa keterbatasan pendanaan dan dinamika anggota yang datang dan pergi. Namun bagi Susi, komunitas adalah gerakan. Ketika setiap anggota merasa memiliki, keberlanjutan tidak lagi bergantung pada keuntungan materi, melainkan pada rasa keterikatan dan tujuan bersama. Komunitas diposisikan sebagai social support system bagi para ibu. Dalam banyak situasi, jawaban atas tantangan pengasuhan dan kehidupan tidak selalu ditemukan di mesin pencari, melainkan dari pengalaman sesama ibu. Jejaring ini menjadi ruang belajar yang relevan dan kontekstual.
Harapan: Perempuan yang Lebih Sehat, Cerdas, dan Berdaya
Ke depan, Susi berharap Sidina Community dapat semakin berdampak dan menjadi jembatan yang mempertemukan brand dengan perempuan Indonesia. Tujuan akhirnya bukan hanya kolaborasi, tetapi terciptanya perempuan yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya. Lebih dari itu, komunitas ini ingin membantu para ibu agar lebih siap menghadapi tantangan keluarga dan menjadi pusat energi positif di rumah. Karena ketika seorang ibu bertumbuh, keluarga pun ikut tumbuh.
Sidina Community membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari ruang sederhana. Dari grup kecil yang dibangun di masa krisis, kini tumbuh gerakan perempuan yang saling menguatkan. Dan di baliknya, ada keyakinan bahwa berkomunitas bukan sekadar berkumpul, melainkan proses saling membeli pengalaman termurah: belajar dari perjalanan satu sama lain.
Untuk menjadi member Sidina Community, calon member wajib mengikuti dan lulus Pelatihan Ibu Penggerak Sidina (PIPS), yang dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Untuk informasi pelatihan dll bisa join di sini.










