Dari Retail Offline ke Brand Anak Lokal: Perjalanan SHLO Kids Membangun Usaha yang Bertumbuh Bersama

Perjalanan SHLO Kids dari Retail ke Brand Baju Anak Lokal

Industri fashion anak di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan keluarga akan produk yang nyaman, fungsional, dan tetap menarik secara desain. Di tengah dinamika tersebut, banyak brand lokal bermunculan dengan karakter dan pendekatan yang berbeda. Salah satunya adalah SHLO Kids, brand baju anak lokal asal Bandung yang dibangun oleh Anita Septi Deiyani bersama suaminya.

Perjalanan SHLO Kids tidak dimulai sebagai sebuah brand fashion seperti yang dikenal saat ini. Pada awalnya, SHLO merupakan bagian dari ekosistem retail offline yang menaungi beberapa brand sekaligus. Nama SHLO sendiri berasal dari singkatan berbagai brand yang sebelumnya dijual dalam satu jaringan retail. Seiring berjalannya waktu, nama tersebut kemudian digunakan sebagai identitas retail yang menaungi berbagai produk fashion anak.

Transformasi penting terjadi pada tahun 2022. Pada tahun tersebut, SHLO tidak lagi sebagai retail, tetapi resmi berkembang menjadi brand baju anak lokal dengan identitas produk sendiri. Perubahan ini menjadi titik awal bagi SHLO Kids untuk memperkuat posisi mereka di industri fashion anak dan membangun karakter brand yang lebih jelas di pasar.

Membangun Bisnis yang Bertumbuh Bersama Banyak Orang

Di balik perkembangan SHLO Kids, terdapat prinsip sederhana yang menjadi fondasi perjalanan bisnisnya: usaha tidak hanya tentang menjual produk, tetapi juga tentang menciptakan manfaat bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Sejak awal, Anita dan suaminya memiliki komitmen untuk memastikan bahwa bisnis yang mereka bangun dapat memberikan dampak nyata bagi para pekerja dan mitra yang terlibat dalam proses produksinya. Melalui kolaborasi dengan konveksi dan para pekerja yang mendukung proses produksi, SHLO Kids membuka peluang kerja yang terus berkembang seiring meningkatnya skala usaha mereka.

Pendekatan ini membuat SHLO Kids tidak hanya berfokus pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga pada keberlanjutan hubungan kerja yang saling mendukung. Semakin berkembang bisnisnya, semakin banyak pula pihak yang ikut merasakan manfaat dari aktivitas produksi dan distribusi brand ini.

Dalam konteks usaha kecil dan menengah di Indonesia, pendekatan seperti ini menjadi salah satu bentuk dampak yang paling realistis. Banyak brand lokal yang tumbuh dari skala kecil dan berkembang melalui kolaborasi dengan konveksi lokal, sehingga pertumbuhan bisnis juga mendorong terbukanya peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Dari Retail Offline ke Brand Anak Lokal: Perjalanan SHLO Kids Membangun Usaha yang Bertumbuh Bersama

Desain yang Dekat dengan Pengalaman Keluarga

Salah satu karakter unik dari SHLO Kids terletak pada proses kreatif di balik desain produknya. Desain pakaian anak yang dihadirkan oleh brand ini dibuat langsung oleh suami Anita yang terlibat aktif dalam pengembangan produk.

Pendekatan desain yang digunakan tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga pada pengalaman keluarga ketika memilih pakaian anak. Produk SHLO Kids dirancang agar mudah dipilih dan terasa relevan bagi orang tua, termasuk para ayah yang sering kali ikut terlibat dalam proses membeli pakaian untuk anak mereka.

Dalam praktiknya, hal ini terlihat dari banyaknya pengalaman pelanggan yang datang langsung ke toko dan memilih pakaian anak tanpa harus melalui proses yang rumit. Para ayah dapat dengan percaya diri menentukan pilihan pakaian yang dirasa cocok untuk anak mereka, hanya dengan memastikan ukuran yang tepat.

Pengalaman sederhana seperti ini menjadi salah satu momen yang memperlihatkan bagaimana sebuah produk dapat menghadirkan kedekatan emosional dalam kehidupan keluarga.

Upaya Mengurangi Limbah Produksi

Selain fokus pada kualitas produk dan kebermanfaatan sosial, SHLO Kids juga mulai memperhatikan aspek keberlanjutan dalam proses produksinya.

Dalam industri fashion, salah satu tantangan yang sering muncul adalah limbah kain yang dihasilkan dari proses pemotongan bahan. Untuk mengurangi hal tersebut, SHLO Kids bekerja sama dengan mitra konveksi yang memiliki pendekatan efisien dalam mengatur pola potongan kain.

Melalui pengaturan pola yang lebih presisi, sisa potongan bahan dapat diminimalkan sehingga limbah produksi menjadi lebih sedikit. Upaya ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi langkah awal yang penting dalam menciptakan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab. Bagi banyak brand lokal yang berkembang dari skala kecil, pendekatan seperti ini menjadi langkah realistis untuk mulai menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional bisnis mereka.

Membangun Brand dengan Komitmen Jangka Panjang

Bagi Anita dan tim di balik SHLO Kids, membangun brand bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan komitmen, konsistensi, serta pemahaman yang kuat tentang produk yang ingin ditawarkan kepada pasar.

Dalam perjalanan membangun brand, salah satu hal yang dianggap paling penting adalah kejelasan arah usaha. Sebuah brand perlu memiliki fondasi yang jelas mengenai produk yang dijual, target pasar yang ingin dijangkau, serta nilai yang ingin dibawa dalam setiap aktivitas bisnisnya.

Membangun brand juga membutuhkan komitmen jangka panjang. Sebuah usaha tidak dapat hanya dibangun lalu dibiarkan berjalan tanpa perhatian. Brand perlu dirawat, dikembangkan, dan terus diperkuat agar dapat bertahan dalam persaingan industri yang semakin dinamis.

Perjalanan SHLO Kids menunjukkan bahwa brand lokal dapat tumbuh melalui proses yang bertahap. Dimulai dari retail offline, berkembang menjadi brand sendiri, hingga kini terus memperkuat identitasnya sebagai bagian dari industri fashion anak di Indonesia.

Di tengah perkembangan industri fashion yang semakin kompetitif, kisah SHLO Kids menjadi pengingat bahwa sebuah brand dapat berkembang tidak hanya melalui strategi bisnis, tetapi juga melalui nilai, konsistensi, dan komitmen untuk bertumbuh bersama orang-orang yang ada di dalamnya.

Bagikan :

Artikel Terbaru
Artikel Terkait

Kolaborasi Evermos dan PKK Pondok Pinang untuk Pemberdayaan Perempuan dan Edukasi Mengenai Kanker Serviks

Kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan perempuan Indonesia. Berdasarkan data nasional, penyakit ini menempati posisi kedua penyebab kematian akibat kanker pada perempuan, dan sebagian besar kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut. Kondisi ini menunjukkan masih terbatasnya akses informasi dan pemeriksaan dini bagi masyarakat, terutama di tingkat kelurahan dan komunitas lokal. Untuk

Selengkapnya »

Workshop Digital Marketing: Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan sebagai Pilar Ketangguhan Keluarga

Kudus, 20 Juli 2025 – Evermos kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas dampak sosial melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi pemberdayaan perempuan. Kali ini, kolaborasi bersama Nasyiatul Aisyiyah (NA) Jawa Tengah berlangsung di Universitas Muhammadiyah Kudus dengan tajuk Workshop Digital Marketing: Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda sebagai Pilar Ketangguhan Keluarga. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang berfokus

Selengkapnya »

Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda Bersama Nasyiatul Aisyiyah

Pekalongan, 11 Mei 2025 — Langkah kolaboratif untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan muda terus digaungkan oleh Evermos. Kali ini, Evermos bersama Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) melalui departemen ekonomi menghadirkan pelatihan bertema “Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda” di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Kegiatan ini menjadi lanjutan dari sinergi positif antara Evermos dan Nasyiatul

Selengkapnya »