Dari Ruang Kelas ke Ekosistem Ribuan Entrepreneur: Perjalanan Nur Islami Javad Membangun Business Initiative Movement (BIM)

Bagi Nur Islami Javad, atau yang akrab disapa Jeff, membangun komunitas bukan tentang membentuk organisasi besar. Ini tentang menciptakan ruang aman bagi para entrepreneur untuk belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan. Dari ruang diskusi saat menempuh MBA ITB pada 2016, lahirlah cikal bakal yang kini dikenal sebagai Business Initiative Movement (BIM).

Bersama tujuh co-founder lainnya, Jeff memulai komunitas ini dengan nama Bandung Initiative Movement. Awalnya sederhana: belajar bersama, menghadirkan sharing session, dan membuka ruang diskusi untuk para pebisnis muda yang sedang merintis jalan. Namun semangat kolaborasi yang ia bangun perlahan menarik perhatian lebih luas.

Membangun dari Nol, Menjaga dengan Proses

Sebagai salah satu penggagas, Jeff tidak hanya berperan di awal pembentukan. Ia bertahan bahkan ketika di 2019 sempat menjadi satu-satunya co-founder yang aktif karena yang lain fokus pada bisnis, studi, maupun jalur karier berbeda. Di fase itu, menjaga keberlangsungan komunitas bukan perkara mudah.

Tidak ada struktur besar yang menaungi BIM. Tidak ada organisasi induk yang menjadi “cantelan”. Jeff dan tim memilih bertumpu pada keilmuan, belajar dari dosen-dosen entrepreneurship, senior bisnis, dan jejaring profesional. Ia percaya bahwa komunitas harus tumbuh seiring dengan pertumbuhan pribadi para penggeraknya.

Di bawah perjalanannya, BIM berkembang menjadi ekosistem dengan lebih dari 2.500 anggota, dengan sekitar seribuan yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan.

Dari Ruang Kelas ke Ekosistem Ribuan Entrepreneur: Perjalanan Nur Islami Javad Membangun Business Initiative Movement (BIM)

Ketika Komunitas Menjadi Ekosistem

Perubahan nama menjadi Business Initiative Movement pada 2018 menandai babak baru perjalanan Jeff. Permintaan dari kota-kota lain membuat komunitas ini meluas hingga Cianjur, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu. Namun bagi Jeff, ekspansi bukan sekadar soal jumlah kota. Ia melihat BIM sebagai ekosistem yang hidup. Ada dosen trainer dari berbagai kampus, ada kolaborasi dengan brand, regulator, hingga pemerintah. Ada bootcamp, ada sharing session, ada ruang diskusi informal tanpa penghakiman. Ia menjaga agar BIM tetap relevan. Formal ketika perlu berkolaborasi dengan stakeholder besar, tetapi tetap hangat dan santai dalam forum internal komunitas.

Impact yang Terlihat dan yang Tak Terlihat

Bagi Jeff, dampak terbesar bukan hanya angka. Memang ada anggota yang memulai dari usaha kecil dan kini memiliki perputaran miliaran rupiah per tahun. Bahkan ketua BIM terbaru memiliki startup dengan perputaran ratusan miliar. Namun yang lebih ia syukuri adalah ruang tanpa filter dan tanpa penghakiman yang terbentuk di dalam BIM. Di sana, para entrepreneur bisa berbagi cerita jatuh bangun, kegagalan, dan tekanan membangun sistem bisnis.

Ia melihat sendiri bagaimana support system, milestone, wadah belajar, dan akses menjadi kebutuhan utama entrepreneur Indonesia. BIM hadir menjawab kebutuhan itu, secara natural, tanpa dibuat terlalu kaku.

Ujian Terbesar dan Solidaritas yang Lahir

Pandemi menjadi momen paling menguji dalam perjalanan Jeff memimpin BIM. Coworking space “Titik-Titik” yang baru dibangun harus ditutup sehari setelah peluncuran akibat pembatasan sosial. Namun dari situ, ia melihat ketangguhan komunitasnya. Dana ratusan juta berhasil dihimpun untuk membantu sesama, disalurkan ke berbagai kota, bahkan hingga gerakan donasi untuk Palestina. Bagi Jeff, inilah bukti bahwa komunitas yang dibangun dengan nilai berbagi akan tetap kokoh dalam krisis.

Terus Belajar, Memberi Ruang Regenerasi

Jeff tidak melihat BIM sebagai miliknya. Ia mendorong regenerasi, memberi ruang kepada generasi baru untuk memimpin dan mengembangkan komunitas. Ia percaya, semakin jauh perjalanan seseorang, semakin fokus energi harus dikelola. Kini, perannya lebih sebagai penjaga nilai dan penghubung ekosistem. Ia tetap belajar, tetap membuka akses, dan tetap menjaga agar BIM menjadi ruang tumbuh yang sustain.

Perjalanan Nur Islami Javad menunjukkan bahwa membangun komunitas bukan tentang popularitas atau struktur besar. Ini tentang konsistensi, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keberanian membuka ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dari ruang kelas hingga ekosistem ribuan entrepreneur, Jeff membuktikan bahwa impact tidak lahir dari satu individu saja, tetapi dari ruang yang memungkinkan banyak individu berkembang bersama.

Bagi Jeff, BIM bukan sekadar komunitas, melainkan perjalanan panjang menjaga semangat kolaborasi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dan selama masih ada ruang untuk belajar dan berbagi, ia percaya ekosistem ini akan terus melahirkan entrepreneur yang tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga membawa manfaat bagi banyak orang.

Bagikan :

Artikel Terkait

Kolaborasi Evermos dan PKK Pondok Pinang untuk Pemberdayaan Perempuan dan Edukasi Mengenai Kanker Serviks

Kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan perempuan Indonesia. Berdasarkan data nasional, penyakit ini menempati posisi kedua penyebab kematian akibat kanker pada perempuan, dan sebagian besar kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut. Kondisi ini menunjukkan masih terbatasnya akses informasi dan pemeriksaan dini bagi masyarakat, terutama di tingkat kelurahan dan komunitas lokal. Untuk

Selengkapnya »

Workshop Digital Marketing: Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan sebagai Pilar Ketangguhan Keluarga

Kudus, 20 Juli 2025 – Evermos kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas dampak sosial melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi pemberdayaan perempuan. Kali ini, kolaborasi bersama Nasyiatul Aisyiyah (NA) Jawa Tengah berlangsung di Universitas Muhammadiyah Kudus dengan tajuk Workshop Digital Marketing: Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda sebagai Pilar Ketangguhan Keluarga. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang berfokus

Selengkapnya »

Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda Bersama Nasyiatul Aisyiyah

Pekalongan, 11 Mei 2025 — Langkah kolaboratif untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan muda terus digaungkan oleh Evermos. Kali ini, Evermos bersama Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) melalui departemen ekonomi menghadirkan pelatihan bertema “Menguatkan Keterampilan Ekonomi Digital Perempuan Muda” di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Kegiatan ini menjadi lanjutan dari sinergi positif antara Evermos dan Nasyiatul

Selengkapnya »