Pada Selasa, 31 Maret 2026, Binus University Alam Sutera menjadi ruang perjumpaan antara dunia akademis dan praktik keberlanjutan bisnis yang nyata. Evermos bersama Closed Loop menggelar workshop bertajuk Circular Design Thinking yang mengajak mahasiswa Binus University untuk memahami bahwa keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari koin yang sama.
Workshop ini dihadiri oleh mahasiswa Binus University Alam Sutera dan dipandu oleh dua pemateri, yaitu Andika Dwi Saputra, Head of ESG & Sustainability Evermos, serta Shanina Boestami Aradhana, Project Manager sekaligus Lead Communications Closed Loop. Keduanya membawa perspektif yang saling melengkapi: dari sisi pengelolaan rantai nilai produk hingga bagaimana sebuah platform commerce lokal dapat mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam ekosistem bisnisnya.
Krisis Limbah Tekstil dan Urgensi Perubahan Paradigma
Model ekonomi linier yang selama ini mendominasi dunia bisnis, khususnya di industri tekstil, telah terbukti menciptakan permasalahan limbah yang semakin sulit ditangani. Dalam model ini, produk diproduksi, digunakan, lalu dibuang begitu saja tanpa mempertimbangkan siklus hidupnya secara menyeluruh. Hasilnya adalah penumpukan limbah yang membebani lingkungan dan mempersempit ruang hidup generasi mendatang.
Circular Design Thinking hadir sebagai respons terhadap persoalan ini. Pendekatan ini mendorong para pelaku bisnis, desainer, dan pengambil keputusan untuk merancang sistem yang secara aktif mengeliminasi limbah sejak tahap awal, mengedarkan produk dalam siklus hidup yang lebih panjang, serta meregenerasi sistem alam yang telah terdegradasi. Workshop di Binus University Alam Sutera ini menjadi salah satu ruang untuk menanamkan paradigma tersebut kepada generasi muda yang akan menjadi pemain utama di industri masa depan.
Evermos dan Closed Loop: Dua Perspektif yang Saling Melengkapi
Kolaborasi Evermos dan Closed Loop dalam workshop ini bukan tanpa alasan. Keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap isu keberlanjutan di sektor tekstil dan UMKM Indonesia. Closed Loop, sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan ekonomi sirkular, membawa kerangka berpikir berbasis sistem yang membantu peserta memahami bagaimana setiap keputusan desain dan bisnis berdampak pada siklus material secara keseluruhan.
Sementara itu, Evermos membawa pengalaman nyata sebagai platform commerce yang telah mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnisnya. Dengan lebih dari 50% kategori produk berbasis tekstil dan lebih dari 680 brand serta produsen dalam ekosistemnya, Evermos berada di posisi yang sangat relevan untuk menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan teknologi dapat berperan aktif mendorong praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.
Andika Dwi Saputra, sebagai Head of ESG & Sustainability Evermos, memaparkan bagaimana Evermos telah membangun program ESG Assessment, mengembangkan Evermos ESG Scoring & Rating, serta meluncurkan inisiatif Evermos Lestari sebagai bentuk pengakuan terhadap brand-brand yang telah menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Seluruh inisiatif ini berjalan beriringan dengan pertumbuhan bisnis, membuktikan bahwa keberlanjutan bukanlah beban, melainkan keunggulan kompetitif.
Sustainability Bisa Berjalan Beriringan dengan Keuntungan Ekonomi
Salah satu poin penting yang menjadi benang merah dalam workshop ini adalah bahwa solusi hijau tidak harus mahal atau rumit. Mahasiswa diajak untuk melihat berbagai contoh nyata bagaimana inisiatif keberlanjutan yang sederhana dan terukur dapat memberikan dampak signifikan, baik bagi lingkungan maupun profitabilitas bisnis.
Shanina Boestami Aradhana dari Closed Loop menjelaskan bagaimana prinsip circular economy dapat diterapkan secara praktis oleh pelaku UMKM sekalipun, mulai dari pemilihan material yang lebih efisien, pengelolaan sisa produksi yang lebih bijak, hingga pengembangan model bisnis yang memperpanjang usia pakai produk. Pendekatan ini membuka wawasan mahasiswa bahwa inovasi keberlanjutan tidak selalu membutuhkan investasi besar, melainkan dimulai dari cara berpikir yang berbeda tentang nilai sebuah produk dan material.
Pemahaman inilah yang ingin ditanamkan Evermos kepada seluruh mitra dan ekosistemnya. Melalui program ESG Improvement yang dijalankan dua kali dalam setahun, Evermos terus mendampingi brand-brand mitra untuk mengidentifikasi langkah-langkah praktis yang bisa segera diimplementasikan tanpa harus mengorbankan marjin bisnis mereka.
Pemberdayaan Komunitas Melalui Edukasi Keberlanjutan
Workshop ini selaras dengan salah satu pilar utama Evermos, yakni pemberdayaan komunitas. Bagi Evermos, pemberdayaan tidak berhenti pada akses ekonomi semata, tetapi mencakup pula pembangunan kapasitas dan kesadaran tentang bagaimana berbisnis dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Mahasiswa, sebagai calon pelaku bisnis dan pembuat kebijakan masa depan, menjadi salah satu kelompok strategis yang perlu dilibatkan dalam percakapan ini.
Dengan menghadirkan sesi ini di lingkungan kampus Binus University Alam Sutera, Evermos menegaskan komitmennya untuk tidak hanya bekerja dengan mitra UMKM yang sudah ada, tetapi juga menginvestasikan pemahaman kepada generasi berikutnya. Peserta workshop tidak sekadar mendapatkan teori, tetapi juga memperoleh gambaran konkret tentang bagaimana prinsip circular design thinking dapat diterapkan dalam konteks bisnis lokal Indonesia yang nyata.
Membangun Ekosistem yang Lebih Hijau, Satu Langkah dalam Satu Waktu
Perubahan menuju ekonomi yang lebih sirkular tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor, antara akademisi, pelaku industri, organisasi sipil, dan komunitas, untuk membangun fondasi yang kokoh. Workshop Circular Design Thinking di Binus University Alam Sutera ini adalah salah satu batu bata dalam bangunan besar tersebut.
Evermos percaya bahwa setiap percakapan tentang keberlanjutan yang terjadi di ruang-ruang akademis hari ini akan menjadi tindakan nyata di dunia industri esok hari. Dengan terus menjalin kolaborasi bersama mitra seperti Closed Loop, Evermos berkomitmen untuk terus hadir sebagai enabler yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut membawa manfaat nyata bagi lingkungan dan komunitas yang lebih luas.
Kegiatan ini tidak hanya sejalan dengan pilar pemberdayaan Evermos, namun juga merupakan kolaborasi project Evermos bersama Closed Loop yang di-support oleh DEG Impulse yang merupakan anak perusahaan nirlaba dari DEG (German Development Bank) dengan tujuan untuk mengembangkan praktik ekonomi sirkular pada industri tekstil di Indonesia.
Inisiatif ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Evermos dalam mewujudkan ekosistem bisnis Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan siap bersaing di panggung global dengan tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Ingin tahu lebih lanjut tentang program ESG dan keberlanjutan Evermos? Kunjungi halaman Evermos ESG dan Sustainability Report kami.











